Kisah Tukang Sapu Yang Jadi Bos WhatsApp

11 views

BimAndroid-- pahitnya kehidupan yang dialami sejak kecil, mungkin justru menjadi titik balik yang sangat beruntung bagi Jan Koum, ia membuat titik baliknya menjadi kehebatan dan kesuksesan yang menanti di kemudian hari. Demikian secerca cerita kehidupan yang dialami oleh Jan Koum, salah satu pendiri aplikasi pesan instant terpopuler di dunia, WhatsApp.

Masa kecil Jan memanglah sangat sulit. Terlahir sebagai keturunan yahudi, dan dibesarkan dipinggiran kota Kiev, Ukraina. Ayah Jan adalah seorang manajer konstruksi dan ibunya sebagai ibu rumah tangga. Ketika itu, ukraina sedang dalam kondisi perpilitikan yang kurang baik, dan akhirnya Koum dan ibunya memutuskan untuk pergi ke Mountain View, amerika serikat.

Namun kehidupan lebih baik yang diangan-angan oleh koum dan ibunya setelah pindah, tidak langsung terwujud. Nyatanya setelah pindah ke Amerika pun, kehidupan mereka berdua tetap saja sulit. Agar tetap bertahan hidup, ibu Koum bekerja sebagai perawat bayi dan Koum sendiri menjadi tukang sapu di sebuah toko. Sementara itu ayahnya yang awalnya ingin pindah juga akhirnya tidak jadi ikut ke Amerika dan akhirnya meninggal pada 1997.

Saking sulitnya kehidupan mereka, sehingga harus hidup dengan makanan subsidi pemerintah, mereka tinggal di apartemen dengan dua kamar tidur yang juga dikenai biaya. Ujian pun tak berhenti menimpa koum, ibunya didiagnosa menderita kanker dan akhirnya meninggal dunia pada tahun 2000, yang membuat Koum menjadi sebatang kara.

Pendidikan Jan Koum

Pada usia 18 tahun, Koum mulai tertarik pada pemrograman, Koum hampir tidak lulus dari sebua SMA di Mission Viejo, California, kemudia melanjutkan pendidikannya di San Jose State University sambil bekerja sebagai penguji keamanan di Ernst & Young. Ia pernah tergabung dalalm grup peretas wOOwOO, dan bertemu dengan orang-orang yang kelak mendirikan Napster, Shawn Fanning dan Jordan Ritter.

Pada 1997, Jan Koum dipekerjakan oleh google sebagai teknisi insfratuktur, dirinya pun bertemu Brian Acton saat bekerja di Ernst & Young. Koum memutuskan untuk pindah kerja di Yahoo bersama dengan Acton serta berhenti kuliah.

dan pada September 2007, keduanya hengkang dari Yahoo dan ingin berlibur ke Amerika Selatan. dan kemudia mereka pun mencoba peruntungan dengan melamar kerja di Facebook namun ditolak.

Cikal Bakal WhatsApp

Inisiatif Koum merintis WhatsApp diawali ketika dia membeli sebuah Iphone. Koum menyadari toko aplikasi Apple Store yang saat itu berusia 7 bulan, akan menjadi besar dikemudian hari. Akhirnya Koum mengunjungi temannya, Alex Fishman dan keduanya pun berdiskusi selama beberapa jam seputar ide aplikasi yang akan dibuat. Dipilihlah nama WhatsApp karena terdengan seperti frasa " what's up", kemudia pada hari ulang tahunnya, 24 Februari 2009, ia mendirikan WhatsApp Inc di California.

dan kini, aplikasi WhatsApp telah menjadi aplikasi populer yang telah dimiliki kurang lebig 1 Miliar pengguna diseluruh dunia. Atas alasan itu pula, Facebook dan Google berlomba-lomba untuk membelinya tetapi akhirnya facebook yang memenangkan pertarungan sengit tersebut.

Setelah WhatsApp dibeli Facebook dengan nilai yang woow fantastis (USD 19 Miliar) atau setara dengan 266 Triliun. Sontak Koum dan Acton menjadi milyarder baru di dunia bisnis teknologi internet.

Kini Koum masih memegang sekitar 45% saham WhatsApp sedangkan partnernya sekitar 20%. Demikian dikutip dari Time

  1. author

    Muhammad Taufik2 years ago

    motivasi baru untuk saya khususnya di bidang programmer , saya juga sedang usaha untuk membuat aplikasi namun belum terealisasikan dengan sempurna 😀

    Reply
  2. author

    Abah Template2 years ago

    cerita yang sangat bermanfaat.. terima kasih sahabat atas berbaginya

    Reply

Leave a reply "Kisah Tukang Sapu Yang Jadi Bos WhatsApp"